Desa Sepaso Di Bekali Sosialisasi Basic Life Support

$rows[judul] Keterangan Gambar : Pemdes Sepaso gandeng perusahaan berikan pembekalan BLS

Makineksis.com, Bengalon -  Aula  Pemerintah Desa Sepaso, Minggu (16/11) 2025 sedikit berbeda dari biasanya

Hal ini terkait,   dalam mewujudkan kesigapan satuan  tugas (Satgas) Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana)  yang telah dibentuk oleh aparatur Pemerintahan Desa Sepaso Kecamatan Sepaso Kabupaten Kutai Timur (Kutim)

Sebelum jauh mengulas, saat di wawancara Kepala Desa Sepaso, Ruslan mengatakan Destana di Desanya merupakan sebuah program untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dalam menghadapi ancaman bencana. Desa/kelurahan, terutama  memiliki "skill" kemampuan untuk beradaptasi, siaga, dan pulih dengan cepat dari dampak bencana.

Salah satu kegiatan terbukti melalui gelaran Sosialisasi Basic Life Support (BLS) yang diselenggarakan oleh PT. Pamapersada Nusantara, selaku mitra pemerintahan desa.

"Melalui sosialisasi ini, peserta diajak untuk memahami bagaimana detik-detik awal penanganan korban henti napas dan henti jantung dapat menentukan hidup dan mati seseorang. Pengetahuan dasar tentang pertolongan pertama sebelum tenaga medis tiba di lokasi menjadi bekal penting yang diharapkan dapat dimiliki setiap anggota masyarakat," terang Kades Ruslan

Kades Ruslan mengungkapkan pada penyampaian materi oleh instruktur menjelaskan dengan sederhana namun bermakna mengenai komponen utama tubuh manusia, yaitu sistem pernapasan dan sistem peredaran darah. Kedua sistem ini bekerja tanpa henti untuk menopang kehidupan. Ketika salah satunya terganggu, maka kehidupan seseorang bisa berada di ambang batas.

"Tidak hanya itu saja instruktur juga memberikan edukasi dengan memberikan pembekalan kepada  peserta memahami dua istilah penting dalam dunia medis, yakni mati klinis dan mati biologis," beber kades sepaso.

Berikut penjelasan apa itu mati klinis ? yang dipaparkan secara singkat oleh intruktur pada sosialisasi tersebut.

Mati klinis terjadi ketika seseorang berhenti bernapas dan jantungnya tidak lagi berdetak. Namun, di tahap ini, harapan belum sepenuhnya hilang — karena melalui tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang cepat dan tepat, nyawa korban masih bisa diselamatkan.

Sedangkan mati biologis adalah titik akhir di mana sel-sel tubuh berhenti berfungsi secara permanen dan tidak dapat dipulihkan kembali.

Bagian paling menarik dari kegiatan ini adalah sesi praktik Resusitasi Jantung Paru (RJP). Dengan penuh semangat, peserta mencoba melakukan kompresi dada, membuka jalan napas, dan memberikan napas bantuan (ventilasi) sesuai panduan instruktur. Ruangan seolah dipenuhi semangat kemanusiaan, ketika setiap peserta menyadari bahwa tindakan sederhana mereka bisa menjadi penyelamat nyawa seseorang.

Instruktur menegaskan  bahwa lokasi kompresi berada di bagian tengah bawah tulang dada (sternum) dengan frekuensi 100–120 kali per menit. Kedalaman tekanan disesuaikan dengan usia korban — sekitar 6 cm untuk dewasa dan 4 cm untuk anak-anak — dengan rasio 30 kali kompresi dan 2 kali ventilasi selama 2 menit.

Selain keterampilan teknis, peserta juga diingatkan tentang prinsip keselamatan diri, yaitu selalu memastikan kondisi aman sebelum menolong, meminta izin dari saksi atau keluarga korban, serta memperhatikan risiko di sekitar lokasi kejadian. Karena penolong yang aman adalah kunci keberhasilan penyelamatan.

Melalui kegiatan ini, PT. Pamapersada Nusantara menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat di lingkungan sekitar. Dengan bekal ilmu dan praktik yang diperoleh, para peserta kini diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam situasi darurat, sekaligus menjadi penggerak kesadaran bahwa menolong sesama adalah bentuk nyata dari kemanusiaan.

Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama dan ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi. Senyum para peserta mencerminkan rasa bangga dan percaya diri baru — bahwa setiap orang, tanpa harus menjadi tenaga medis, dapat menjadi penyelamat kehidupan bagi orang lain.

Sejumlah peserta dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari Destana Desa Sepaso, Karang Taruna, Redkar, RT, hingga perangkat desa berkumpul dengan antusias mengikuti
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa.(adv/Diskominfo Staper Kutim)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)